Tidak bisa dipungkiri bahwa musik adalah sesuatu yang paling sering di dengar oleh masyarakat saat ini. Karena hal inilah musik dimanfaatkan oleh para petinggi-petinggi untuk mendapatkan atensi dari para masyarakat. Khususnya saat momen kampanye, para calon berlomba-lomba menarik perhatian masyarakat dengan mengadakan konser yang diselingi dengan kampanye dari para kandidat.

Lalu apakah dengan kampanye yang seperti ini berdampak pada suara dari para calon? Apakah efektif penggunaan musik dalam kampanye politik?

Disclaimer : Semua tulisan ini merupakan argumen dan pandangan dari admin sendiri, jika ada yang kurang setuju boleh langsung memberikan pendapat lewat komen dibawah terimakasih”

Sejarah singkat

Menurut historia.id kampanye yang menggandeng artis pertama kali dilakukan pada pemilu tahun 1971. Terutama Golkar, sebagai partai baru mereka harus mengenalkan lambang beringin kepada khalayak ramai, salah satu caranya adalah dengan menggaet para penyanyi dan aktris seperti Bing slamet, Jimmy Samalo, dan Elly Khadam.

Tahun 2004 adalah tahun dimana masyarakat dapat memilih kandidat secara langsung, hal ini dirayakan oleh slank yang mengcover lagu “Mars Pemilu” Karya Mochtar Embut.

Lalu semenjak pemilu 2014 banyak seniman dan musisi yang semakin vokal memberikan suaranya untuk capres. Nama-nama seperti Slank, Marjuk Kill the DJ terang-terangan mendukung Jokowi-Kalla. Bahkan Jokowi dan Jusuf Kalla sempat ikut dalam perilisan lagu tersebut di Jalan Potlot.

Ahmad Dhani pun menjadi salah satu musisi yang paling kontroversial karena dinilai terlalu vokal mendukung Prabowo-Hatta di pilpres 2014

Lanjut di Tahun 2024 para calon semakin gencar mengadakan konser musik yang diselubungi dengan kepentingan politik.

Pembahasan

Lalu apakah salah melakukan konser seperti ini untuk mendapatkan suara? Jawabannya sudah jelas tidak salah. Karena memang tidak adanya paksaan untuk memilih, dan juga tidak serta merta saat kamu menonton konsernya sama dengan kamu mendukung paslon tersebut.

Di tahun 2014 seorang etnomusikolog bernama Aris Setyawan melakukan riset terhadap musik dangdut yang selalu digunakan untuk kampanye dari zaman orde baru sampai zaman Jokowi periode kedua.

Menurutnya, di dangdut yang terjadi adalah musik ketika digunakan berkampanye memang efektif untuk menggaet sebanyak mungkin orang untuk datang di rally kampanye. Tapi efektivitas dalam menggenjot elektabilitas atau memilih orang untuk memilih kandidat tertentu, dari penelitiannya tidak menunjukkan hal seperti itu, dilansir dari Liputan6.com

Kebanyakan orang menonton karena itu adalah band yang disukainya, Apalagi jika gratis, pasti tidak ada yang menolaknya kan.

Dan Seberapa besar pengaruh para para artis ini dalam dunia politik? Pengaruh mereka cukup besar, namun tidak sebesar seperti yang kita kira. Mereka memang bisa mengumpulkan massa, namun belum tentu bisa mengubah pikiran masyarakat. Karena setiap orang sudah memiliki pilihan masing-masing, dan juga tidak semua orang bisa dikontrol, para pemusik hanya bisa mengajak namun keputusan tetap berada pada tangan rakyat.

Penutup

Jadi kesimpulannya apakah musik berpengaruh dalam kampanye politik? Ya berpengaruh, namun tidak terlalu besar pengaruhnya. Mungkin mereka bisa mempengaruhi beberapa yang fanatik dengan artis tersebut namun banyak juga orang yang memiliki pendirian yang tidak bisa diganggu gugat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *